Pribadi Alternatif
- Chico Hindarto

- May 25
- 2 min read
Updated: Jul 28

Menjadi pribadi lain sebagai pelarian dari keseharian dikemas dalam ritual menjadi tema yang ditawarkan film “Para Perasuk” (2026). Jauh dari kesan seram, kerasukan diceritakan bagian dari acara suka cita yang menghibur partisipan perasuk yang disebut sebagai pelamun dan para tamu perhelatan. Roh yang merasuki adalah fauna dari berbagai jenis, diwakilkan oleh tingkah laku mereka yang diemulasi oleh para pelamun dengan iringan bebunyian instrumen yang dimainkan oleh para calon perasuk dari berbagai sanggar di desa Latas.
Ambisi Bayu (Angga Yunanda) menjadi perasuk menggunakan instrumen slompret mengharuskannya mendapatkan roh binatang dan pelamun bernama Laksmi (Maudy Ayunda) sebagai medium roh tersebut. Bayu dengan keseharian yang tidak ideal bersama ayahnya, kerap terganggu fokusnya. Keadaan yang mengacaukan perannya sebagai perasuk. Ancaman pembelian tanah oleh PT Wanaria membayangi warga desa Latas. Terutama kemungkinan pengambilalihan mata air yang menjadi sumber roh binatang bersemayam. Guru Asri (Anggun) sebagai tokoh penting para perasuk menentang PT Wanaria dan menggalang bantuan dari warga desa Latas untuk membeli mata air tersebut.
Kisah rekaan ini sarat simbol-simbol multitasfir yang mewakili kehidupan masyarakat yang membenturkan tradisi versus kapital, kebajikan lokal versus modernisasi, impian urban versus kenyataan desa, dendam versus harapan, dan kompetisi versus kolaborasi. Perbedaan ini disajikan dengan cara yang menarik, sehingga samar antara dua kutub yang seharusnya berlawanan. Tradisi perasuk di desa Latas dilestarikan demi menjaga keseimbangan alam beserta menghormati leluhur serta roh totem binatang. Sementara gempuran modal besar dari pengembang mengontraskan ini, meskipun mengatasnamakan kesejahteraan penduduk di masa depan. Kebajikan lokal yang untuk kaum perkotaan dianggap sebagai takhayul berjuang untuk berdampingan dengan modernisasi yang disimbolkan dengan peralatan berat yang membongkar ruang fisik desa Latas. Keinginan hidup lebih baik di kota yang ternyata juga merupakan perjuangan seperti saat tinggal di desa dialami oleh ayah Bayu. Suatu pilihan yang kurang lebih setara, dengan konsekuensi yang berbeda. Dendam dan harapan yang membaur pada diri Bayu digambarkan sebagai konflik yang tidak ada hasil sempurna, suatu realita yang lumrah. Pilihan apapun selalu memiliki risiko. Persahabatan dalam bentuk kerja sama antar tokoh untuk saling menolong tidak meniadakan kondisi bersaing untuk memenangkan kompetisi menjadi perasuk terbaik di desa Latas.



Comments