Pribadi Alternatif
- Chico Hindarto

- 10 hours ago
- 1 min read

Menjadi pribadi lain sebagai pelarian dari keseharian dikemas dalam ritual menjadi tema yang ditawarkan film “Para Perasuk” (2026). Jauh dari kesan seram, kerasukan diceritakan bagian dari acara suka cita yang menghibur partisipan perasuk yang disebut sebagai pelamun dan para tamu perhelatan. Roh yang merasuki adalah fauna dari berbagai jenis, diwakilkan oleh tingkah laku mereka yang diemulasi oleh para pelamun dengan iringan bebunyian instrumen yang dimainkan oleh para calon perasuk dari berbagai sanggar di desa Latas.
Ambisi Bayu (Angga Yunanda) menjadi perasuk menggunakan instrumen slompret mengharuskannya mendapatkan roh binatang dan pelamun bernama Laksmi (Maudy Ayunda) sebagai medium roh tersebut. Bayu dengan keseharian yang tidak ideal bersama ayahnya, kerap terganggu fokusnya. Keadaan yang mengacaukan perannya sebagai perasuk.
Ancaman pembelian tanah oleh PT Wanaria membayangi warga desa Latas. Terutama kemungkinan pengambilalihan mata air yang menjadi sumber roh binatang bersemayam. Guru Asri (Anggun) sebagai tokoh penting para perasuk menentang PT Wanaria dan menggalang bantuan dari warga desa Latas untuk membeli mata air tersebut.
Kisah rekaan ini sarat simbol-simbol multitasfir yang mewakili kehidupan masyarakat yang membenturkan tradisi versus kapital, kebajikan lokal versus modernisasi, impian urban versus kenyataan desa, dendam versus harapan, dan kompetisi versus kolaborasi.



Comments